Gerakan kemahasiswaan sedang berada di persimpangan jalan antara ketidakberdayaan dan idealisme. Gerakan kemahasiswaan yang banyak ditunjukkan dengan demonstrasi sering berakhir dengan kekerasan atau kericuhan dan akibatnya kurang berhasil memberikan nilai yang bermanfaat bagi masyarakat. Di lain pihak, pola gerakan yang tidak berubah selama 40 tahun terakhir terus dipertahankan dengan berlindung pada nilai-nilai idealisme. Persoalannya adalah bahwa mahasiswa sendiri justru menjadi tudingan di balik kegagalan gerakan mereka, antara lain karena ketidakdewasaan dalam tarik-menarik kepentingan dan koordinasi yang lemah di antara mereka. Apakah tudingan ini mempunyai dasar?
Persoalan ketidakberdayaan gerakan kemahasiswaan tidak serta merta dapat dibebankan kepada para mahasiswa itu sendiri, tetapi perlu juga melongok pada pola pikir pembinaan kemahasiswaan yang telah berjalan selama puluhan tahun di dalam kampus. Persoalan ini sudah begitu mendesak untuk segera dicarikan solusinya terutama dikaitkan dengan tantangan bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan global. Suka atau tidak suka, pencerdasan bangsa adalah tanggung jawab bersama dari komunitas kampus. Sudah sepantasnyalah pengurus kampus dan mahasiswa bergandengan tangan dalam upaya mencerdaskan bangsa.
Tantangan generasi muda
Tidak dapat dipungkiri bahwa mahasiswa adalah generasi muda masa depan bangsa Indonesia. Kalau pembinaan kemahasiswaan ini luput dari perhatian bangsa ini maka dapat dipastikan masa depan Republik Indonesia tidak akan jauh berbeda bahkan lebih buruk dibandingkan dengan keadaan saat ini. Paling tidak ada tiga alasan utama pentingnya reformasi pembinaan kemahasiswaan.
Peradaban dunia tengah berada pada era pengetahuan yang meletakkan pengetahuan sebagai modal utama dalam pembangunan dan persaingan. Pengetahuan sudah menjadi komoditi yang dapat diperjualbelikan. Kampus bukan lagi dianggap sebagai satu-satunya sumber atau otoritas pengetahuan. Pengetahuan tersedia dan dapat diakses dari mana saja terutama dengan kemajuan teknologi informasi. Walaupun pengetahuan berlimpah, kampus sering menjadi menara gading karena hanya berfungsi sebagai broker pengetahuan kepada para peserta didik tanpa memperhatikan apakah mahasiswa dapat berpikir lebih baik dengan bekal pengetahuan yang diberikan. Kampus perlu melakukan terobosan dalam proses pengajaran dan pembinaan kemahasiswaan yang dapat membantu mahasiswa menjadi calon cendekiawan masa depan di era pengetahuan.
Dunia kampus tidak dapat mengelak dari kehadiran posmodernisme yang berpendapat bahwa manusia dapat menciptakan realitas melalui tindakan kesadaran baru. Pandangan ini memberikan tantangan tersendiri pada dunia kampus, karena memperkenalkan subjektivitas dan relativisme kebenaran ilmiah. Mistis sering dibingkai dengan kebenaran yang seolah-olah ilmiah dan menghasilkan apa yang dikenal dengan ilmu pengetahuan semu. Sebagai contoh, Teori Relativitas Einstein tentang ruang dan waktu sering dipakai untuk membenarkan relativisme moral. Tidak mengherankan bahwa dalam era posmodernisme ini, banyak ditemui penipuan berkedok ilmiah. Selain itu, metodologi penelitian menjadi rontok karena aspek objektivitas diganti dengan subjektivitas sehingga para cendekiawan sulit menguji dan membandingkan temuan tanpa dasar pengalaman realitas yang sama. Kampus harus siap menjadi garda terdepan dalam membekali mahasiswanya untuk bepikir kritis serta tekun mencari dan menjaga kebenaran ilmiah sehingga mampu membedakan antara pengetahuan otentik dan semu.
Alasan terakhir adalah era neoliberalisme yang meletakkan pemenuhan kebutuhan manusia di dalam mekanisme pasar. Neoliberalisme yang seolah-olah menawarkan kebebasan ini telah melilit bangsa Indonesia untuk tergantung pada uang, konsumerisme, dan teknologi asing. Banyak budaya lokal menjadi mati suri dan potensi sumberdaya manusia tidak dapat diwujudkan karena ketidaksiapan dan ketidakpedulian bangsa ini dalam proses membekali diri untuk produktif dalam persaingan. Kampus harus tanggap terhadap kebutuhan lokal dan mempercayai bahwa organisasi kemahasiswaan dapat menjadi agen pembaharu yang menyegarkan dengan menawarkan pola pembangunan alternatif yang lebih manusiawi.
Perangkap sejarah
Tidak mudah bagi komunitas kampus melihat ketiga tantangan di atas yang sedang menggerogoti mental bangsa Indonesia. Pengaruh sejarah begitu kuat dan kampus beserta organisasi kemahasiswaan terperangkap dalam sejarah dikotomi mahasiswa dan rektorat dan sejarah idealisme gerakan kemahasiswaan yang mengedepankan perlawanan atau oposisi.
Pengurus kampus masih memandang pembinaan kemahasiswaan bukan bagian dari proses pendidikan akademik yang terpadu. Pandangan parsial ini melihat mahasiswa sebagai objek bukan subjek pendidikan. Urusan kampus adalah mentransfer pengetahuan kepada peserta didik dengan satu arah. Ukuran keberhasilan kampus adalah banyaknya mahasiswa yang selesai tepat waktu dengan indeks prestasi yang tinggi. Gerakan kemahasiswaan adalah urusan mahasiswa. Pengurus kampus selalu mencurigai dan membatasi gerakan kemahasiswaan. Akibatnya, pembelajaran kurikuler dan kokurikuler menjadi terputus dengan ekstrakurikuler dan tidak terjadi interaksi antara pengalaman intelektual dan sosial di dalam diri mahasiswa.
Di lain pihak, gerakan kemahasiswaan itu sendiri terperangkap dalam mentalitas perlawanan yang kadangkala tidak mendasar, yang penting menolak dan mengkritik kebijakan pemerintah dan pengurus kampus. Mentalitas ini sudah mendarah daging sejak gerakan kemahasiswaan yang terus menolak kebijakan Pemerintah Soeharto. Gerakan kemahasiswaan menghabiskan sebagian besar energinya untuk menolak kebijakan baru, produk baru, dan penindasan baru melalui pernyataan defensif. Tetapi setelah Soeharto turun tahta, gerakan kemahasiswaan gagal dalam mengisi era reformasi terutama dalam memerangi pembodohan, kebodohan, kemiskinan, dan kerusakan alam.
Paradigma baru
Apa yang menjadi arah penyelesaian persoalan pembinaan kemahasiswaan ini? Jawabannya terletak pada pembaharuan pola pikir para pengurus kampus dan organisasi kemahasiswaan. Diperlukan keberanian untuk melepaskan diri dari tirani masa lalu dan melangkah ke depan dengan paradigma baru yang bukan hanya memberikan pencerahan tetapi motivasi untuk memulai perubahan.
Paradigma baru yang pertama adalah cara pandang bahwa pembinaan kemahasiswaan merupakan bagian terpadu dari proses pendidikan di kampus dalam rangka mencari dan menjaga kebenaran ilmiah. Mahasiswa adalah peserta didik yang sedang menuju kematangan karakter dan dengan sadar bergabung dengan komunitas kampus dalam mencari kebenaran ilmiah. Oleh karena itu, mereka diberikan kesempatan untuk mengembangkan dirinya baik dalam kegiatan kurikuler dan kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (student centered learning) perlu digalakkan di kampus di mana mereka dibina untuk bertanggung jawab dalam proses pendidikan dengan mempersiapkan diri dan tekun melatih diri sehingga mempunyai kompetensi akademik dan sikap sosial yang berguna bagi masyarakat dan lingkungannya. Dosen bukan hanya mentransfer pengetahuan tetapi juga mengilhami para mahasiswanya untuk berpikir kritis dan berwawasan masa depan yang lebih baik. Pengurus kampus memberdayakan organisasi kemahasiswaan dengan memfasilitasi dan melatih mereka sehingga mereka mampu mewujudkan misi kampus dalam pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Paradigma baru bagi gerakan kemahasiswaan adalah mentalitas pembebasan. Komunitas kampus dan masyarakat sekitarnya perlu dibebaskan dari kebodohan dan kemiskinan. Isu-isu di Kota Bandung seperti kerusakan sumber air bersih, sampah, polusi, korupsi, ketegangan masyarakat, konsumerisme, penipuan, dan lain sebagainya tidak mungkin dibebaskan dari masyarakat kalau tidak ada program terpadu yang berjangka panjang dari gerakan kemahasiswaan.
Gerakan kemahasiswaan di Kota Bandung harus jeli memposisikan dirinya dibandingkan dengan gerakan kemahasiswaan di Jakarta yang dekat dengan pusat-pusat kekuasaan. Gerakan kemahasiswaan di Bandung harus dekat dengan hati dan pikiran rakyat sekitarnya. Mahasiswa Bandung tepatnya menjadi pemikir yang kritis. Bagaimana caranya? Salah satu gagasan adalah gerakan kemahasiswaan yang berfungsi menjadi jembatan intelektual untuk mengkolaborasikan kaum cendekiawan di kampus, aktivis di lembaga swadaya masyarakat, masyarakat yang tertindas, dan pemerintah daerah. Media internet yang tidak terbatas dapat menjadi alat dokumentasi dan dialog yang dinamis dalam mendukung kolaborasi intelektual ini. Para mahasiswa mengembangkan jaringan kerja yang terdiri dari kaum intelektual, para aktivis, dan para pembuat opini melalui dialog, kelompok kerja, dokumentasi, dan ceramah. Forum-forum seperti ini bertujuan untuk mengembangkan suatu kritik sistematis terhadap usaha-usaha pembangunan yang monokultur dan menawarkan kajian dan pengetahuan menuju tindakan campur tangan yang cocok dengan kebutuhan masyarakat setempat. Organisasi kemahasiswaan di kampus ataupun antar kampus dapat membentuk klaster sesuai dengan kompetensinya masing-masing antara lain dalam bidang perdagangan, persampahan, teknologi, sumberdaya air, tata kota, transportasi, polusi, dan industri kreatif.
Gerakan kemahasiswaan harus mampu mengubah kesan reaktif dan impulsif terhadap penindasan dan pembodohan menjadi citra yang membebaskan dari penindasan dan ketidakadilan. Gerakan ini tentunya tertantang untuk memajukan tatanan masyarakat yang lebih mandiri, meningkatkan rasa hormat terhadap kebhinekaan budaya dan sosial termasuk insan-insan yang terpinggirkan, dan memberdayakan mereka dalam gerakan perubahan sosial yang lebih bermartabat.
Penulis, dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) dan anggota Senat Akademik ITB.
Salam
Saya senang dan bersyukur bisa dapat mengakses berbagai inforamsi khususnya menyangkut pola pembinaan mahasiswa untuk jangka waktu beberapa tahun yang akan datang, hanya saja saya belum menemukan salah satu bentuk konsepsi real menyangkut permasalahan “bagaimana mengatasi aksi brutal mahasiswa yang saat ini selalu saja diletuskan mengiringi Aksi-aksi Demo yang marak, semoga semua kalangan bisa membantu kami memberikan solusi yang terbagus untuk meredam segala bentuk “students environment and behavior”untuk menjadi lebih baik.
terima kasih atas segala kiriman informasinya.
Thahir
Makassar